Diperbarui:
Skrining TBC dengan AI rontgen: yang perlu disiapkan faskes
WHO merekomendasikan perangkat lunak CAD untuk membaca rontgen dada dalam skrining TBC. Yang menentukan hasilnya bukan kecepatan baca, melainkan alur tindak lanjutnya.
Indonesia termasuk negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Menurut artikel ulasan di ANTARA yang mengutip data WHO, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TBC dunia pada 2024, terbesar kedua setelah India, dengan perkiraan sekitar 1,09 juta orang mengalami TBC pada 2023 (ANTARA, 27 Agustus 2026). Salah satu pintu masuk penemuan kasus adalah rontgen dada, dan di sinilah kecerdasan artifisial (AI) mulai banyak dipakai. Tulisan ini menyoroti apa yang sebenarnya perlu disiapkan rumah sakit dan puskesmas saat memakainya.
Apa yang dikerjakan AI
Perangkat lunak deteksi berbantuan komputer (computer-aided detection, CAD) menganalisis rontgen dada dan memberi skor kecurigaan adanya kelainan yang mengarah ke TBC paru. Salah satu contoh buatan dalam negeri adalah TBScreen.AI yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada; menurut laporan UGM pada Agustus 2026, sensitivitasnya sekitar 83 persen dan spesifisitasnya sekitar 87 persen.
WHO sejak pedoman skrining TBC tahun 2021 menyatakan perangkat lunak CAD dapat digunakan menggantikan pembaca manusia untuk interpretasi rontgen dada digital, baik untuk skrining maupun triase, pada orang berusia 15 tahun ke atas. Jadi pemakaian AI di tahap ini bukan hal eksperimental, melainkan sudah masuk rekomendasi internasional.
Yang sering disalahpahami
Skor CAD bukan persentase kepastian bahwa seseorang menderita TBC, dan tidak boleh diperlakukan sebagai diagnosis. Angka itu hanya menandai perlunya pemeriksaan lanjutan, biasanya pemeriksaan dahak atau tes cepat molekuler.
Selain itu, ambang batas skor yang dipakai untuk menyatakan “curiga” tidak bersifat universal. WHO menganjurkan setiap program menetapkan target sensitivitas sesuai konteksnya dan mengkalibrasi ambang CAD secara lokal memakai data nyata di lapangan. Ambang yang dipakai fasilitas lain belum tentu cocok untuk populasi pasien Anda.
Hambatan sebenarnya ada di tindak lanjut
Artikel ANTARA menegaskan satu hal yang mudah terlewat: kecepatan membaca gambar bukan masalah utama. Tantangan terbesarnya adalah seberapa cepat sistem kesehatan mengubah kecurigaan itu menjadi diagnosis, pengobatan, dan pencegahan penularan. Rontgen yang dibaca dalam hitungan detik tidak menolong kalau pasien dengan skor tinggi butuh berminggu-minggu untuk sampai ke pemeriksaan konfirmasi.
Yang bisa disiapkan administrasi dan keperawatan
- Alur rujukan konfirmasi. Begitu ada skor tinggi, ke mana pasien diarahkan, berapa lama antreannya, dan siapa yang memastikan pasien benar-benar datang.
- Pencatatan dan pelacakan. Bagaimana hasil skrining dicatat, dihubungkan ke hasil pemeriksaan dahak, dan dipakai untuk pelacakan kontak.
- Peran manusia tetap ada. Tetapkan siapa yang meninjau kasus dengan skor batas dan bagaimana ketidaksesuaian diselesaikan.
- Kalibrasi lokal. Sebelum dipakai luas, sepakati target sensitivitas dan ambang skor dengan mengacu pada data pasien sendiri, bukan sekadar nilai bawaan produk.
- Komunikasi ke pasien. Siapkan penjelasan bahwa skor adalah tanda perlu diperiksa lagi, bukan vonis.
Ringkasan
- WHO sejak 2021 merekomendasikan perangkat lunak CAD dapat menggantikan pembaca manusia untuk rontgen dada digital dalam skrining dan triase TBC pada orang berusia 15 tahun ke atas.
- Skor CAD menandai perlunya pemeriksaan lanjutan, bukan diagnosis, dan ambangnya perlu dikalibrasi secara lokal dengan data nyata.
- Menurut ANTARA, hambatan utama bukan kecepatan baca melainkan kecepatan mengubah kecurigaan menjadi diagnosis dan pengobatan.
- Yang perlu disiapkan faskes adalah alur rujukan konfirmasi, pencatatan dan pelacakan kontak, peninjauan manusia untuk kasus batas, kalibrasi ambang lokal, dan penjelasan yang jelas kepada pasien.
Sumber: ANTARA, “AI membaca rontgen, memburu TBC sebelum terlambat” (27 Agustus 2026) · WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 2: screening – systematic screening for tuberculosis disease (2021)